Gus Thon, “The Masterpiece”, Akan Dapat Penghargaan Rekor Dunia Dari MURI Dan LEPRID

Foto: Gus Haji Mas Sulthon, The Masterpiece, ‘nanggap’ wayang kulit paling sering

Advertisement

MOJOKERTO – tarunanews.com, Gus Haji Mas Sulthon (Gus Thon) dikenal sebagai tokoh asal Jawa Timur yang memiliki kepedulian luar biasa tinggi terhadap seni budaya Jowo, lebih-lebih wayang kulit, dimana dalam setiap bulan minimal satu kali ‘nanggap’ (mementaskan) wayang kulit. Bisa lebih satu kali ‘nanggap’ dalam satu bulan. Hal tersebut pun terjadi pada bulan Agustus tahun 2020 ini saat menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram/Syuro 1442 H dan memperingati Dirgahayu NKRI ke-75, Gus Thon pun ‘nanggap’ wayang kulit lebih dari satu kali dalam satu bulan, meskipun kali ini secara Online Virtual karena Covid-19.

Bahkan dalam rangka Dirgahayu NKRI dan Tahun Baru Islam 1 Muharram/Syuro tersebut diadakan pagelaran wayang kulit online virtual 7 malam, yang diadakan mulai tanggal 19 – 25 Agustus 2020 di Gedung Yayasan Ngesti Gondo komplek Pesarean Eyang Djugo (Eyang Kyai Raden Mas Zakaria II), Gunung Kawi, Malang, Jawa Timur. Ide-ide Gus Thon, dan sekaligus peduli, salah satunya ‘nanggap’ wayang kulit secara konsisten untuk melestarikan seni budaya asli Indonesia dengan beaya sendiri yang besar-besaran, yang di seluruh Jawa hingga seluruh Indonesia pun Gus Thon paling sering ‘nanggap’ wayang kulit di setiap bulan dan setiap tahun, layak sebagai MAHAKARYA, sebagai masterpiece. Juga rekor terbanyak anak bangsa yang ‘nanggap’ wayang kulit, yang juga bisa dilihat dari dokumentasi dan keterangan dari masyarakat lebih-lebih di seluruh pelosok Jawa Timur.

Advertisement

Hal tersebut salah satunya yang menjadikan sosok Gus Thon disebut oleh Paulus Pangka tokoh nasional soal Rekor Dunia bahwa sangat layak mendapatkan Rekor Dunia dari lembaga manapun, juga Lembaga Prestasi Rekor Indonesia Dunia atau LEPRID. “Gus Haji Mas Sulthon layak mendapat penghargaan Rekor Dunia,” ungkap Paulus Pangka, seraya menyebut masih banyak Rekor Dunia yang masih bisa digali dari sosok Gus Thon dalam soal konsistensi perhatian terhadap wayang kulit, belum termasuk hal-hal lain diluar wayang kulit. Hal tersebut diantaranya bisa dilihat dari dokumentasi-dokumentasi yang ada, dilakukan secara konsisten.

Baca Juga :  Babinsa Koramil 0227/Cipocok Jaya Kodim 0602/Serang, Sosialisasikan AKB kepada Masyarakat

Dan pada kesempatan berbeda juga disampaikan oleh Bu Sri Widayati mewakili Museum Rekor Indonesia (MURI yang didirikan Jaya Suprana Jamu Jago, red.), menyampaikan kalau Gus Thon berkenan dari MURI juga akan menyampaikan penghargaan kepada Gus Thon yang memang sudah selayaknya pula mendapatkan penghargaan Rekor Dunia dari MURI setelah banyak doumentasi selama ini yang di pelajari MURI. Dokumentasi-dokumentasi yang memungkinkan mendapatkan Rekor Dunia dengan berbagai kategorisasi penghargaan yang bisa berbeda-beda.

Advertisement

Banyak hal-hal MAHAKARYA yang dilakukan Gus Thon dalam berbagai hal yang berbeda-beda dan masing-masing layak mendapatkan REKOR DUNIA, dan Gus Thon sering akan diberi penghargaan Rekor Dunia tersebut namun enggan menerimanya. Akan tetapi karena pengharggan Rekor Dunia kali ini menyangkut seni budaya wayang kulit, Gus Thon berkenan menerima penghargaan Rekor Dunia dari MURI dan LEPRID, dengan pertimbangan untuk lebih mengajak masyarakat agar peduli melestarikan seni budaya wayang kulit. Jadi, mau menerima penghargaan Rekor Dunia kali ini untuk mendorong semua lapisan masyarakat supaya bersama-sama ikut melestarikan seni budaya wayang kulit dengan ‘nanggap’ wayang kulit dalam segala hajat di masyarakat dan negara.

Konsistensi Gus Haji Mas Sulthon memgenai wayang kulit. Salah satu konsistensi lain sehubungan dengan wayang kulit yang dilakukan Gus Haji Mas Sulthon adalah rutinitas ‘nanggap’ wayang kulit pula dalam agenda tahunan Acara Tasyakuran Keluarga Besar Haji Mas Sulthon/Gus Thon Dalam Rangka Kirim Doa Haul Eyang Djugo (Eyang Kyai Raden Mas Zakaria II) dan Eyang Raden Mas Iman Sudjono. Yang untuk tahun 2020 ini diadakan pada hari Sabtu 5 September 2020 kemarin, secara online virtual, dengan diisi berbagai agenda dari pagi hingga selesai dini hari (hampir pagi, red.). Dimulai dari pagi jam 09:00 WIB sampai jam 11:30 WIB dengan santunan anak yatim yang diisi YASIN TAHLIL serta diisi klenengan tabuh gamelan gending-gending Jawa dalam rangka selamatan ulang tahun putranya Raden Mas Ahmad.

Advertisement

Dilanjutkan acara jam 12:30 WIB sampai jam 14:30 WIB wayang kulit ruwatan dengan dalang pangruwat ki dalang Mbah Sugiman dari Blitar dalam rangka nguri-nguri Budoyo Jowo. Dilanjutkan pembagian sembako ke seluruh warga jam 15:30 WIB sampai jam 16:30 WIB dalam rangka selamatan Syuro.

Baca Juga :  ASPEPARINDO JATIM BAKAL LANTIK 3 DPC

Kemudian pada malam hari dalam rangka kirim doa HAUL EYANG DJUGO (EYANG KYAI RADEN MAS ZAKARIA II) DAN EYANG RADEN MAS IMAN SUDJONO, pada jam 20:00 – 21:00 dengan lakon “Guru Sejati” oleh dalang Ki Gadhing Panjalu dari Sragen Jawa Tengah. Lalu pada jam 21:00 – 23.00 Yasin Tahlil oleh Kyai Ahyat (Pasuruan); kemudian dilanjut Ceramah oleh KH. Nur chozin Romli (Pasuruan). Selain itu, juga dihibur oleh KIRUN (Abah Haji Syakirun) PELAWAK KONDANG nusantara sampai jam 00:00 WIB. Kemudian setelah itu dilanjutkan Wayang kulit lagi pada jam 00.30 WIB sampai selesai jelang pagi hari Jam 03:30 WIB dengan lakon “Bimo Suci” oleh dalang Ki Ardhi Purboantono yang dikenal sebagai “Dalange Wong NU”.

Advertisement

Dimana soal santunan terhadap anak yatim piatu tersebut bukanlah hanya dalam satu hari ini saja, tapi tiap bulan rutin mengadakan santunan anak yatim. Dan pada hari-hari lain secara informal Gus Thon melakukan santunan yang luar biasa banyak terhadap yatim piatu. Bahkan tak hanya yatim, kepedulian Gus Thon yang luar biasa, tapi juga kepada para fakir miskin, para musafir jalanan.

Baca Juga :  PEMUDA GRAPARI ( Generasi pemuda lestari ) & KELOMPOK TANI dusun lestari ds. Wonorejo kec. puncu Mengadakan penyemprotan disinfektan untuk penanggulangan penyebaran virus Corona / covid 19

Konsistensi dari Gus Thon dalam berbagai acara yang diselenggarakannya, juga soal kepedulian terhadap wayang kulit, kepedulian terhadap yatim piatu dan fakir miskin, kepedulian terhadap para musafir jalanan dan lain-lain, menjadikan sosok Gus Ton sebagai tokoh yang lebih ditokohkan oleh para tokoh, begitupun dalam kacamata Paulus Pangka yang berulang kali menyebut Gus Thon layak mendapatkan Rekor Dunia. Begitu pula dalam kacamata MURI yang diwakili Bu Sri Widayati.

Advertisement

Dengan minimal satu kali setiap bulan ‘nanggap’ wayang kulit, banyak kru yang mendapatkan penghasilan dari Gus Ton. Satu kali pentas sekitar 40-an orang. Apalagi dalam situasi-kondisi Covid-19, dimana jumlah orang yang ‘nanggap’ turun drastis, menjadikan langkah Gus Thon yang tetap eksis ‘nanggap’ wayang kulit merupakan bentuk pertolongan/bantuan tersendiri bagi para kru wayang kulit. Kata KIRUN, “Kalau Gus Thon ndak nanggap, kita bisa nyonyor ora oleh (tidak dapat, red.) penggasilan. KITA BISA SENGSARA TIDAK DAPAT PENGHASILAN.”

Apa yang disampaikan KIRUN tersebut bisa pula dilihat langsung di channel Youtube link DG CHANNEL. Pendapat Anda? Sms atau WA kesini= 081216271926. (Siswahyu).

Advertisement

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *