Akibat Koyo Ranu Klakah ,Harga Iklan Anjok

Foto : Berkah Koyo Bagi Pedagang Ikan

LUMAJANG – tarunanews.com-
Sudah menjadi tradisi tahunan bagi petani ikan keramba Ranu Klakah ‘koyo’ .
Kejadian yang membuat ekosistem Ranu Klakah terganggu. Akibatnya, ribuan ikan mabuk dan mengapung ke permukaan danau di kaki gunung Lemongan Kamis (30/07/2020).

Kasi Produksi dan Usaha Perikanan Dinas Perikanan Kabupaten Lumajang, Joko Sulistyono menjelaskan bahwa fenomena koyo lazim dikenal dengan istilah Upwelling atau pergerakan massa air secara vertikal. Fenomena ini ditandai dengan mulai mabuk atau mengambangnya ikan di permukaan danau.

“Karena perbedaan suhu atau angin, mengakibatkan massa air lapisan bawah naik ke atas, jadi pergerakan air secara vertikal, massa air yang di bawah membawa material seperti belerang,” jelasnya.

Baca Juga :  Tugu kebanggaan kota babat yang di sebut kota wingko.

Kondisi seperti ini membuat petani ikan keramba di Ranu Klakah harus memanen ikannya lebih awal. Namun dijelaskan Joko Sulistyono bahwa petani ikan di Ranu Klakah sudah mengantisipasi fenomena alam tahunan ini agar tidak terlalu merugi. Para petani biasanya telah mengatur masa budidaya ikan sehingga memasuki bulan Juli, ikan yang dibudidaya di Ranu Klakah sudah siap dipanen.

“Teman-teman petani ikan keramba biasanya sudah mengantisipasi, biasanya masa pemeliharaan sudah panen, atau kalau masih ada di keramba diselamatkan ke kolam-kolam di sekitar rumahnya,” jelasnya.

Ashari, masyarakat sekitar Ranu Klakah mengungkapkan bahwa saat fenomena koyo ini harga ikan lebih murah dari biasanya. “Tentu rugi biasanya dari petani keramba dijual ke pedagang sekitar 30 ribu, di pasaran sekitar 33-35 ribu, dengan fenomena ini harganya bisa anjlok, 25ribu sampai 20 ribu per kilonya,” ungkapnya.

Baca Juga :  Polres probolinggo  Amankan Rombongan Kendaraan Anjal 

Ashari menjelaskan bahwa fenomena ‘koyo’ menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat sekitar. Banyaknya ikan mabuk yang mengapung ke permukaan menjadi buruan warga untuk dijual di sekitar Ranu Klakah.

“Meskipun ini musibah bagi para petani keramba, tetapi fenomena ini ditunggu oleh masyarakat sekitar,” jelasnya. (Agus/Amir)

Tinggalkan Balasan