Kasat Reskrim Polres Kediri AKP.Ambuka : “Adanya Perbedaan Dalam Jumlah Rekontruksi Dengan BAP Tersebut Merupakan Hal Yang Biasa.”

Kediri-tarunanews.com,”Rekonstruksi Ulang Pembunuhan Anggota Fatayat N.U Digelar.”Ada Perbedaan Antara BAP Pelaku dan Rekonstruksi

Rabu, (24/07/19) pukul 10.00 WIB.

Tim penyidik Polres Kediri,Polsek Pare dan Kejaksaan Kabupaten Kediri menggelar’ rekonstruksi ulang kasus pembunuhan Binti Nafi’ah,salah pengurus Fatayat NU Ranting Badas, dirumah korban dijalan Angsa Desa Canggu Kecamatan Badas Kabupaten Kediri Rabu, (24/07/19) pukul 10.00 WIB.

Pengawalan serba ketat dari anggota Polres Kediri dan diperkuat ratusan Banser dan GP Ansor.

Ketika saat rekonstruksi berlangsung sempat ada perdebatan antara tim penyidik Polsek Pare dengan kuasa hukum keluarga almarhumah, Taufik Dwi Kusuma SH dari LPBH NU Kabupaten Kediri.

Didalam rekonstruksi tersebut ada sedikitnya delapan kejanggalan saat digelar reka ulang.”terang Opick.

“Dalam rekonstruksi di TKP ada 15 adegan sesuai jadwal,fakta saat rekonstruksi ada 26 adegan.

Baca Juga :  Gubernur Khofifah Berduka, Kepala Bappeda Jatim Meninggal Akibat Covid-19

Masih menurutnya,Dari rekonstruksi serta adegan yang dilakukan pelaku tunggal Sugeng Riyadi, dalam jadwal dari catatan tim LPBH N.U diduga ada kejanggalan dalam rekonstruksi ini.

Didalam BAP tidak ada keterangan pelaku mengambil gelang korban namun saat rekonstruksi pelaku mengambil gelang korban

Tidak ada adegan mengambil tas korban yang posisinya berada di kamar tetapi saksi melihat pelaku mengambil tas tersebut di dalam kamar

Posisi kepala korban berada di sisi selatan, tapi pelaku menyakini kepala korban di utara ini terbantahkan keterangan saksi anak korban

Tidak ada adegan mematikan lampu atau meteran listrik padahal saat saksi pertama datang kondisi rumah korban padam

Korban ternyata tidak dipukul sekali tetapi lebih dari dua kali dan ini diakui pelaku saat rekonstruksi

Baca Juga :  Warga Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri ini membawa 13 ribu butir pil koplo yang disembunyikan dalam jok sepeda motor.

Uang diambil pelaku ternyata tidak Rp. 1,8 juta seperti dirilis penyidik, namun kurang lebih Rp. 500 ribu dan itupun berupa recehan

Adegan mencongkel pintu harusnya dinaikkan bukan pada slot anak pintu

Anak korban tidak yakin jika dia pelakunya, saat mendengar langsung suara dan logatnya saat dia diperintah untuk tidur

Yang menjadi pertanyaan Opik, apa sebenarnya motif atas tindakan keji yang dilakukan pelaku terhadap korban yang menjadi pengurus Fatayat ini. “saya bertanya-tanya apa modus dan motif pelaku membunuh korban? Ternyata fakta di lapangan tidak sesuai dengan isi BAP dan keterangan dari saksi utama yaitu anak korban,” pungkasnya..

Pastinya akan menjadi persoalan baru, setelah dipenuhinya rekonstruksi ulang, dan faktanya di rekonstruksi di TKP tidak sesuai dari keterangan para saksi.”imbuhnya.

Baca Juga :  Kapolda Banten Apresiasi Kampung Tangguh di Desa Guradog

Ditemui setelah rekonstruksi ulang Kasat Reskrim Polres Kediri AKP.Ambuka menjelaskan
rekontruksi ini dilakukan untuk memperjelas kronologi kejadian. Mengenai tentang adanya perbedaan dalam jumlah rekontruksi dengan BAP tersebut merupakan hal yang biasa,terkait adanya perbedaan jumlah adegan antara BAP dengan ketika rekontruksi itu hal yang biasa. Hal itu untuk mempertegas kronologi,” terangnya.
Masih menurutnya,adanya tambahan adegan tersebut akan ditambahkan dalam BAP tambahan. Sehingga berkas perkara akan dilengkapi sesuai dengan hasil rekontruksi sebelum kembali dikirim ke Kejaksaan Negeri Kabupaten Kediri.”pungkasnya.

Red / tim

Tinggalkan Balasan