Ahmad Dzaki Akmal Dan Resa Pelajar Kota Mojokerto Terlibat Juara Liga 1 U16 EPA Nasional

MOJOKERTO – tarunanews.com,“Tentu saya senang terlibat di Liga 1 U16 2019 Elite Pro Academy (EPA, red.) meski berliku-liku,” ungkap Ahmad Dzaki Akmal Yuda (Akmal) Persebaya U16 EPA yang pernah bergabung Bhayangkara FC (2017-2018), dan saat Pra Liga 1 U16 EPA (Festival Filanesia Elite Pro Academy) sempat gabung Kalteng Putra U16 EPA (Februari-April 2019).

Ahmad Dzaki Akmal Yuda dan Resa, dua pelajar Kota Mojokerto terlibat menjadi JUARA kompetisi sepakbola U16 paling bergengsi se-Indonesia, Liga 1 U16 2019 EPA yang babak puncaknya baru usai dilaksanakan di Yogyakarta (28 September – 6 Oktober 2019). Meskipun Akmal yang pelajar kelas 9D SMPN 2 Kota Mojokerto dan Resa alumni SMPN 2 Kota Mojokerto (kini siswa SMA Tamsis Kota Mojokerto), dalam Liga 1 U16 2019 EPA itu masuk klub berbeda. Akmal tergabung Persebaya U16 EPA, Resa bersama Bhayangkara FC U16.

Baca Juga :  Lewat Rekaman Video, Dejan Lovren Beri Dukungan Kepada Persija

Hal tersebut diungkap R.Tri Harsono Forum Peduli Indonesia – Olahraga Sehat (FPI-OS), kemarin. Persebaya U16 EPA juara 2ND (second) Runner Up atau Juara 3 setelah mengalahkan Persija. Bhayangkara FC U16 raih Runner Up (Juara 2) setelah dikalahkan PS Tira-Persikabo. Menurut R.Tri Harsono, terlepas apapun, prestasi dua pelajar Kota Mojokerto itu sesuatu luar biasa, sehingga wajar jika misal ada apresiasi dari Walikota Mojokerto (Ning Ita) atau Wakil Walikota (Cak Rizal) ataupun dinas-dinas terkait dan pihak sekolah seperti hal perhatian Walikota Surabaya Tri Risma peduli sosok-sosok berprestasi.

Menurut R.Tri Harsono di Indonesia ada 18 klub paling bergengsi di Liga 1 yang juga ‘menaungi’ tim junior termasuk Liga 1 U16 EPA. Jika tiap klub ada maksimal 30 pesepakbola muda, maka seluruh Indonesia itu terdapat 540 saja pesepakbola U16 pilihan yang sebagian berasal dari U15 (kelahiran 2004) seperti Akmal. Menurut R.Tri Harsono, mereka pesepakbola muda potensi masa depan nasional Indonesia. Tinggal bagaimana selanjutnya, apakah para klub bisa lebih menghargai pesepakbola usia muda itu dengan penanganan yang menuju profesional, ataukah klub cenderung sekelas SSB yang tidak pro?

Baca Juga :  Selamat Hut Lantas ke 64 semoga tambah PROMOTER dalam setiap tugas demi masyarakat bangsa dan negara.

“Kita berharap para klub, kepala daerah, kepala dinas terkait, para kepala sekolah, pihak swasta, maupun PSSI pusat hingga daerah agar lebih peduli pesepakbola muda. PSSI maupun klub juga agar waspada dan tegas terhadap pelatih dan kru kepelatihan yang terindikasi melakukan kecurangan, maupun mempermainkan pesepakbola usia muda misal dengan cara meminta sejumlah dana kepada keluarga pesepakbola usia muda itu agar bisa bermain,” tegas R.Tri Harsono yang juga berharap pengurus PSSI (pusat) yang baru (periode 2020-2024) agar lebih perhatikan keselamatan karir para pesepakbola muda. Menurutnya juga diperlukan wajah-wajah baru di PSSI maupun kepelatihan untuk pesepakbola muda Elite Pro Academy. “Jika tidak ada perubahan maka seperti yang dikatakan Boaz Salosa bahwa sepakbola Indonesia, tidak akan maju jika terjebak mafia, yang sudah terbukti melibatkan banyak pihak termasuk pelatih yang tak kalah bahaya,” tandas R.Tri Harsono. Pendapat Anda? Sms atau WA kesini= 081216271926. (Sis).

Baca Juga :  Obor Api Porprov Jatim 2019 Tiba Di Lamongan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *