Tri Joko Susilo,SH (Ketum Perisai Berkarya): Supersemar Bukti Sejarah Presiden Soeharto Ingin Bangkitkan Bangsa Indonesia

JAKARTA – tarunanews.com, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Berkarya menyelenggarakan Seminar Nasional Tentang Surat Perintah 11 Maret 1966 atau Supersemar dan Pameran Lukisan serta Pameran Foto Presiden Republik Indonesia (RI) ke-2 (dua) Jenderal Besar (Purn) HM Soeharto di Gedung Granadi, Jakarta Selatan (Jaksel), Selasa siang (12/03/2019). Acara ini digelar dalam rangka memeringati Hari Surat Perintah Sebelas Maret atau Supersemar yang tepat jatuh pada Senin (11/03/2019).

Acara ini dibuka secara resmi oleh Ketua Umum (Ketum) DPP Partai Berkarya Hutomo Mandala Putra atau akrab disapa Tommy Soeharto dan dihadiri oleh jajaran pengurus serta anggota DPP Partai Berkarya serta Organisasi Massa (Ormas) Perisai Berkarya. Dalam kesempatan ini tampak hadir Ketum Ormas Perisai Berkarya Tri Joko Susilo.

Ia mengatakan, ketika masyarakat saat ini rindu kepada ketokohan Jenderal Besar (Purn) HM Soeharto, maka kembali melihatnya ke aspek kepemimpinan HM Soeharto sebagai presiden RI-2 yang nyata-nyata hingga kini masih dirindukan oleh masyarakat Indonesia. “Masyarakat saat ini rupanya sudah jenuh dengan kondisi yang ada saat, ” ujar Tri Joko Susilo kepada wartawan , ketika ditemui di sela-sela acara itu.

Dijelaskannya, kondisi saat ini, sektor ekonomi tidak diperhatihan sebagai kebutuhan pokok masyarakat Indonesia. “Pada zaman kepemimpinan HM Soeharto harga 9 (sembilan) kebutuhan bahan pangan pokok atau sembako murah dan harga USD1 hanya Rp2000. Artinya, pemerintahan HM Soeharto berani menekan margin harga yang mahal,” katanya.

Baca Juga :  Hadiri dan Saksikan Mega Bazar

“Saat ini, rakyat Indonesia banyak teriak harga mahal. Nah, tantangan buat pemimpin negara ini ke depan, beranikah seperti HM Soeharto yang berani menekan margin harga naik dan mahal? Apa dan untuk siapa sebenarnya pemimpin yang ada pada hari ini?” tanyanya.

Dikatakannya, seharusnya Pemerintah Indonesia mampu membaca kondisi masyarakat Indonesia yang hari ini menunggu kebijakan strategis menyangkut kebutuhan pokok masyarakat dan kebijakan ekonomi usaha yg tdk menyengsarakan pribumi. Hari ini notabenenya sendiri ketika Hutomo Mandala Putra membuat Partai Berkarya dan begitu antusiasnya masyarakat Indonesia dan terlibat dukungan di Partai Berkarya ini seperti magnet, artinya masyarakat Indonesia rindu dengan ketokohan HM Soeharto. “Terlepas dari kepentingan politik di luar sana tentang negatifnya HM Soeharto, tentang kelemahannya HM Soeharto, itu hanya sisi politik dan golongan kepentingan kecil. Tetapi lihat dan tanyakan ke rakyat diluar sana kehidupan masyarakat kala itu, sejahtera,” ungkapnya.

“Kalau politik itu hanya segelintir orang yang tidak suka dengan HM Soeharto. Politik hanya golongan, tapi hari ini masyarakat mau elo Presiden RI, dan elo anggota parlemen, harus ingat kalo elo semua dipilih oleh rakyat Indonesia,” paparnya.

Ia memertanyakan di mana jiwa sosial hati kebangsaan pemimpin negeri saat ini untuk membela kepentingan rakyatnya. “Hari ini, ada acara Pameran Lukisan dan Pameran Foto HM Soeharto dan saya melihat banyak masyarakat Indonesia yang hadir dan antusias pada acara ini karena ingin tahu seperti apa sih sosok kepemimpinan HM Soeharto. Nah, di sinilah saya melihat foto bicara sejarah, foto membuktikan sejarah itu ada, foto membuktikan, bahwa benar-benar HM Soeharto membangun negara ini dari bawah,” urainya.

Baca Juga :  Mengurai Garis Lurus Pada Benang Merah Supersemar Dalam Upaya Membangun Kesadaran Bangsa Dari Bahaya Komunis

“Kita melihat dulu tahun 1966 ada  Supersemar. Saya membaca lewat foto, bahwa HM Soeharto melihat banyak masyarakat Indonesia pintar cerdas secara pendidikan. Tapi tidak memunyai kemampuan ekonomi,” terangnya.
“Nah, akhirnya HM Soeharto mengumpulkan pengusaha-pengusaha sukses yang ada di Indonesia seperti Ciputra dan lain sebagainya dikumpulkan di istana bogor, HM Soeharto mengatakan, tolong nih masyarakat Indonesia banyak yang pintar dan cerdas, tidak mampu pembiayaan sekolah , elo pengusaha punya uang tolong dikumpulkan dan uang itu digunakan untuk membiayai pendidikan mereka. Dan disitulah kenegarawanan HM.Soeharto membuat Yayasan Supersemar utk mengakomodir putra putri bangsa indonesia yg cerdas utk dapat mengenyam pendidikan dengan program Beasiswa Supersemar. Kenapa hari ini dipermasalahkan? Padahal, hal positif  itu seharusnya diteruskan dan dilanjutkan,” tegasnya.

Menurutnya, hal kesalahan fatal yang terjadi saat ini juga ketika pembangunan tidak jelas masa depannya tidak ada GBHN, tidak ada REPELITA. Bangsa ini seperti kedepannya tidak jelas, dan sangat membahayakan anak cucu kita menuju jurang kehancuran NKRI “Imbauan saya kepada masyarakat Partai Berkarya dan Ormas Perisai Berkarya, saya yakin dengan hadirnya sosok Ketum DPP Partai Berkarya Hutomo Mandala Putra adalah sosok pengusaha sukses yang jauh daripada intervensi-intervensi kepentingan dan saya yakin nanti ketika Partai Berkarya punya tiket di parlemen menjadi senjata untuk membidani masyarakat Indonesia menjadi lebih baik dan bisa merealisasikan Undang-Undang (UU) harapan dari masyarakat Indonesia di luar sana karena ketokohan Hutomo Mandala Putra adalah ketokohan yang benar-benar terah Keturunan pemimpin dari Jenderal Besar (Purn) HM Soeharto sebagai pemimpin bangsa yang benar-benar notabenenya membangun bangsa ini,” tuturnya.

Baca Juga :  Politik Uang Dan Janji Kampanye Pilkades Yang Bisa Dipidanakan

“Harapan kita dalam menyongsong Pemilihan Anggota Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 yang merupakan pesta demokrasi dan berlangsung 5 (lima) tahun sekali, siapa pun pemimpin yang akan terpilih nanti tetap kita dukung dan dukungan itu tentunya ke Calon Presiden (Capres) Nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno,” ujarnya.

Ia berpesan agar jangan sampai golput dan kawal hasil perhitungan jangan ada kecurangan oleh oknum pelaksana pemilu menciderai pilihan masyarakat mengikuti Pilpres lima tahun sekali ini sia-sia dan semoga pesta demokrasi ini tidak diciderai oleh oknum-oknum atas nama kepentingan kelompok. “Entah yang pro sana dan pro sini, kita melihat sosial hati negarawannya lah. Bagaimana kondisi kesejahteraan bangsa ini ke depan agar lebih baik, dan anak cucu kita bisa terselamatkan dari pola-pola kekuasaan ke depannya,” tandasnya. (t2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *