Mengurai Garis Lurus Pada Benang Merah Supersemar Dalam Upaya Membangun Kesadaran Bangsa Dari Bahaya Komunis

( Oleh : Tri Joko Susilo.SH )

Ketua Umum Perisai Berkarya

 

“Oleh karena disitu ternyata perintah saya 11 Maret itu adalah perintah yang tepat dan benar sehingga di benarkan oleh MPRS” (Pidato presiden Soekarno 28 juli 1966 di Istana Negara).

Dan Jenderal Besar Soeharto telah mengerjakan perintah itu dengan baik, dan saya mengucapkan terimakasih kepada Jenderal Besar Soeharto”. (Pidato Presiden Soekarno 17 Agustus 1966).

 

Tanggal 11 Maret 2019 ini kita memperingati 53 tahun dari satu peristiwa penting bagi sejarah perjalanan bangsa Indonesia yaitu keluarnya Surat Perintah 11 Maret 1966 oleh Presiden Soekarno. Pada Akhir-akhir ini beredar buku yang menuliskan sejarah tentang Surat Perintah 11 Maret 1966 yang isinya memfitnah Pak Harto bahwa para pelaku sejarah menceritakan asal-usul Surat Perintah tersebut di sebut sebagai awal kudeta merangkak.

 

Tentu saja dengan kepentingan masing-masing. Berbagai Impropisasipun merebak. Hal itu disebabkan oleh raibnya naskah asli Surat perintah tersebut sebagai dokumen sejarah yang sangat penting Bagi Republik Indonesia.

Baca Juga :  Tanpa di sadari oleh warga babat membuang sampah di kali konang

 

Kontroversi dan teka-teki tentang Supersemar terutama menyangkut beberapa hal Pertama adalah masalah apa isi surat perintah itu untuk memulihkan keamanan atau melimpahkan kekuasaan, kemudian. Kedua, masalah bagaimana proses pembuatan dan munculnya Supersemar tersebut. Dan Ketiga, dimana Supersemar yang asli sekarang berada.

 

Tentana masalah yang pertama, sebagian saksi sejarah mengatakan bahwa itu hanya surat perintah, atau semacam surat tugas, untuk memulihkan keamanan dan gejolak politik yang saat itu nyaris tak terkendalikan. Tetapi sejarah juga menunjukan bahwa dengan Supersemar itu, seperti yang dikatakan oleh pelaku sejarah Cosmas Batubara, Probo Sutedjo, situasi memungkinkan dilakukannya penyerahan kekuasaan. Ketika Supersemar itu di tetapkan oleh MPRS menjadi TAP IX, kekuasaan bukan lagi kepada Bung Karno, merupakan sudah menjadi keputusan MPRS. Ketika pertanggungjawaban Bung Karno dengan judul NAWAKSARA di tolak, maka ia diberhentikan dari jabatan presiden. Konsekuensi logisnya adalah Soeharto sebagai pengemban Supersemar diberi mandat untuk menjabat sebagai presiden.

Baca Juga :  Politik Uang Dan Janji Kampanye Pilkades Yang Bisa Dipidanakan

 

Tentang masalah yang kedua, yakni proses pembuatan dan munculnya Supersemar, muncul perbedaan pendapat dalam berbagai versi. Perbedaan pendapat berkisar apakah Supersemar itu di peroleh dengan paksaan dan kekerasan atau diberikan secara sukarela oleh Bung Karno.

 

Adapun kronologis munculnya surat yang sangat penting dalam sistem kenegaraan Republik Indonesia yaitu :

Secara kronologis, pada saat itu menurut sumber sejarah Jenderal Basuki Rahmat menceritakan kejadian di Bogor. Setibanya di Istana, mereka melaporkan maksud dan tujuan mereka datang. Mereka mendapatkan dampratan dari Bung Karno merasa kewibawaanya di rongrong oleh demonstran. Artinya ada pertanyaan dari Bung Karno. Apa yang harus dilakukan sekarang ? 

Diantara tiga Jenderal ada yang menyampaikan pesan dengan bahasanya sendiri-sendiri : “Percayakan saja kepada Pak Harto”. Bung Karno marah lagi, karena sudah memberikan kepercayaan kepada saya, tetapi tidak ada tindakan apa-apa. Disambung lagi oleh salah seorang dari ketiga jenderal itu. “Barang kali diperlukan surat perintah .” Baik, Siapkan Surat itu Perintah itu,” Jawab Bung Karno. Tiga Jenderal dibantu oleh ajudan Presiden , Brigjen Sobur, menyiapkan surat perintah . Dikoreksi oleh Bung Karno dengan bantuan tiga Waperdam yaitu Soebandrio, Chaerul Saleh, dan Pak Laimena. Akhirnya Surat Perintah 11 Maret di tandatangani oleh Presiden/Panglima tertinggi ABRI/Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno.

Baca Juga :  Ketua FORPAM : Narkoba Membahayakan Kehidupan Berbangsa Dan Bernegara

 

Lalu bagaimana dengan keberadaan naskah Supersemar yang asli ? Pengambilan Supersemar dari Presiden Soekarno dilakukan oleh tiga orang perwira ABRI, dan menyerahkannya kepada pengemban Supersemar, Jenderal Soeharto, ketiga perwira itu adalah : Basuki Rahmat, M.Yusuf dan Amir Machmud. Mungkin Supersemar disimpan diantara ketiga Jenderal tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *